Ibuini mendapatkan penghiburan di dalam kedukaan. Dukacita itu akan digantikan dengan sukacita karena Tuhan yang menolongnya. Paulus ketika menulis surat Filipi yang terkenal dengan nada sukacita justru ditulisnya pada saat ia berada dalam banyak kesulitan. Paulus menuliskan surat Filipi di penjara yang gelap; lembab; bau dan saya membayangkan Kesedihanyang Kudus atau kesedihan Tuhan ini merupakan kesedihan yang harus ada. Alkitab mencatat ada 4 (empat) macam DUKACITA yang kudus yang harus ada pada orang Kristen. 1. DUKA CITA KARENA MEMBENCI DOSA. Kesedihan yang pertama-tama ada ketika manusia berdosa bertobat adalah kesedihan karena membenci dosa. Itusebabnya Kristus datang ke dalam dunia supaya relasi menjadi pulih, supaya kita tidak perlu melihat kematian sebagai pemisah final antara aku dan sesamaku dan antara aku dengan Tuhanku. Jangan pikir kalau di neraka ada relasi, relasi itu hak istimewa sorga. Sorga, relasi, kasih, Allah, kekudusan dan cinta semua bergabung dalam satu sisi. adalahkebaikan Allah sendiri yang telah disematkan dalam diri manusia. Dengan kata lain, kebaikan Allah dalam diri manusialah yang menjadi Padatahun 1991, seorang gitaris terkenal asal Inggris, Eric Clapton, sangat berduka ketika putranya Conor yang berusia empat tahun tewas karena terjatuh dari jendela apartemennya. Sebagai sarana untuk menyalurkan dukacitanya, Clapton menulis syair lagu dengan nada kesedihan yang mendalam: "Tears in Heaven". Bukuini lahir karena bimbingan Roh Kudus dengan suatu kerinduan untuk mengajak pembaca bertemu, mengenal, dan mengalami Kristus sebagai Pencipta dan Penyelamat serta Tujuan Akhir hidup manusia. Kristus sebagai fondasi hidup manusia yang diterima BacaJuga. RENUNGAN PENGHIBURAN 40 HARI: BERHARAP DAN MENGANDALKAN TUHAN (Yeremia 17:7-8) PEMBUKAAN PELAYANAN: GOD IS GOOD ALL THE TIME (Mazmur 105:1-6) LIDAH DAN TELINGA SEORANG MURID (Yesaya 50:4-11) Pembacaan Firman Tuhan ini menghibur dan menguatkan kita untuk bersyukur walaupun mengalami 78TpA. Oleh Agape Ndraha, staf Sekolah Athalia “Jangan sedih, dia sudah bahagia di surga…” adalah kalimat penghiburan yang sering terucap. Apakah orang percaya tidak seharusnya bersedih ketika menghadapi kematian orang yang dikasihi? Bagaimanakah seorang beriman seharusnya menghadapi dukacita? Sejak masa Perjanjian Lama sebenarnya sudah dikenal tradisi ratapan ketika seseorang meninggal. “Kemudian matilah Sara…lalu Abraham datang meratapi dan menangisinya Kejadian 232. Penelitian empiris dalam dunia psikologi menemukan bahwa seorang yang mengalami kehilangan akan lebih mampu mengatasi dukacitanya bila kepedihan hati diberi ruang dan dibiarkan berproses baca artikel berjudul “Memahami Dukacita”. Kehilangan bukanlah peristiwa sehari-hari yang bisa dihadapi dengan hati ringan, karena hidup tidak lagi sama. Maka wajar bila kita berduka. Dalam Roma 1215, Rasul Paulus menulis, “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” Paulus mengetahui bahwa dalam kondisi tertentu dukacita tidak bisa dihindari dan menangis adalah respons natural. Orang percaya diperbolehkan menangis. Orang percaya juga diminta untuk menopang mereka yang berduka, dengan cara menangis bersama mereka. Di sisi lain, Paulus mengingatkan bahwa dukacita orang beriman berbeda karena orang Kristen memiliki harapan. “Selanjutnya kami tidak mau saudara-saudara bahwa kamu tidak mengetahui mengenai mereka yang meninggal, supaya kamu tidak berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan” 1 Tesalonika 413. Dalam teks asli Alkitab, Paulus menggunakan kata yang bermakna “tertidur” untuk menggambarkan seseorang yang telah meninggal. Paulus ingin menekankan bahwa orang percaya hidup dalam penantian akan kedatangan Yesus yang kedua kali. Mereka yang meninggal tidak hilang begitu saja, melainkan akan dibangkitkan kembali saat Yesus datang, bagai orang yang sedang tertidur kemudian akan bangun kembali. Bila saat itu tiba, kita akan bergabung bersama mereka dan tinggal selamanya bersama Tuhan dalam kemuliaan-Nya. Paulus tidak mengabaikan atau menyangkal kebutuhan akan ruang untuk emosi negatif. Paulus menekankan bahwa kematian bagi orang Kristen bersifat sementara. Tak seharusnya orang Kristen berduka tanpa batas. Dukacita orang Kristen adalah duka yang diwarnai oleh harapan. Ketika orang Kristen memahami bahwa kematian orang percaya berarti dia pulang kepada Bapa, maka di tengah dukacita tetap terpancar harapan yang memberi penghiburan sejati. Yang sering kali menjadi persoalan adalah cara kita memandang kehidupan ini. Di manakah fokus kita? Bagi Paulus, hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Namun, jika dia harus hidup di dunia ini, itu berarti bekerja memberi buah Filipi 121. Paulus menjalani hidupnya sebagai sesuatu yang bersifat sementara dan harus diisi dengan bekerja bagi Kristus. Dia menyadari bahwa hidupnya bukanlah miliknya, melainkan milik Kristus. Oleh karena itu, pulang ke rumah Bapa dan berada bersama-sama Dia dalam kekekalan adalah hal yang dirindukannya. Dalam buku Grief Obeserved, Lewis melukiskan bahwa seseorang bisa dengan santai terlibat dalam permainan menyusun kartu bridge hingga setinggi mungkin… satu demi satu kartu disusun ke atas diselingi tawa dan canda di antara yang bermain bersama. Suasana akan berubah drastis ketika seseorang harus bermain dengan mempertaruhkan nyawanya atau nyawa orang yang dikasihinya. Setiap kesalahan kecil yang dibuat akan menyebabkan tumpukan kartu jatuh dan konsekuensi fatal terjadi. Demikian juga kita sering kali tidak sungguh-sungguh serius menghadapi hidup. Lewis menuliskan bahwa seseorang memang kadang harus mengalami kejatuhan fatal agar bisa menemukan akal sehatnya. Jadi, bila saat ini kita menghadapi dukacita atau bergumul bersama mereka yang sedang berduka, mungkin ini momen yang dianugerahkan bagi kita untuk berhenti sejenak dan merenung… “Apa sebenarnya hakekat hidup ini?” Dalam jurnal yang berjudul “Saint Paul’s Approach to Grief Clarifying the Ambiguity”, R. Scott Sullender, seorang psikolog, penulis buku, sekaligus profesor di sebuah seminari, menuliskan bahwa dalam konteks dukacita, tiap orang membutuhkan ruang untuk mengekspresikan emosinya. Namun, dalam proses itu kita membutuhkan struktur sehingga bisa mendapatkan jeda dan penghiburan yang kita butuhkan. Struktur itu bisa kita temukan misalnya dalam ritual ibadah dan pemahaman doktrin agama. Sebagai contoh, iman akan menimbulkan kebutuhan untuk berelasi dengan Tuhan walau mungkin hanya dengan berdiam diri dan menangis dalam doa. Pemahaman doktrinal akan membuat seseorang mulai mampu berdialog dengan diri sendiri atau mungkin mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Tuhan untuk mendapatkan peneguhan iman. Ritual ibadah juga akan memberi struktur yang serupa sehingga seseorang tertuntun dalam mengelola dukacitanya lihat five stages of grief dalam “Memahami Dukacita”. Kisah Ayub adalah contoh penggambaran keterpurukan seseorang akibat dukacita yang mendalam. Bahkan, Ayub berkata lebih baik dia tidak pernah dilahirkan ke dunia ini Ayub 310-11. Dalam kepedihan hati dan kesakitan fisik, Ayub meneriakkan begitu banyak pertanyaan, bahkan menggugat Allah karena dia tidak paham alasan Tuhan menimpakan banyak musibah kepadanya. Dengan jujur Ayub mengungkapkan emosinya dan Allah membiarkannya. Namun dalam ayat-ayat yang begitu panjang dengan keluh kesah terlihat bagaimana Ayub tidak lari dari imannya pada Tuhan. Iman yang tak meredup membuat dia mengejar Tuhan untuk menemukan jawaban. Di akhir kisah Ayub, kita tahu bahwa Allah tidak menjawab pertanyaan Ayub, tetapi memberi respons yang sesungguhnya dibutuhkan Ayub. Dia membuka pengertian Ayub dan memberi diri-Nya dikenal hingga Ayub pun berkata, “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.” Ayub bertumbuh melalui penderitaan karena iman. Bukan ketika kondisinya dipulihkan Tuhan, melainkan ketika dia bisa memandang Tuhan dengan pemahaman yang sejati. Iman menjadi mitigasi yang menghibur dan menguatkan dalam dukacita dan memberi jeda yang melegakan saat kita mengalami naik turun badai emosi. Sungguh sebuah eureka rohani ketika akhirnya kita bisa klik dengan apa yang Tuhan ingin ajarkan melalui berbagai misteri kehidupan. Dalam pelayanannya, Paulus beberapa kali menunjukkan pentingnya penghiburan di antara sesama orang percaya. Hal itu dilakukan dengan beberapa Paulus memberi dasar pengertian yang benar mengenai natur dukacita, yaitu bahwa dukacita orang Kristen adalah sementara dan ada harapan akan sukacita mendatang. 2. Paulus mendorong agar sesama orang percaya menghibur dengan kata-kata yang memberi pengharapan dalam pengetahuan tentang kebenaran. 3. Paulus menekankan pentingnya interaksi langsung antarsesama orang percaya dalam memberi penghiburan. Ketika sedang berbeban berat, Paulus sendiri merasakan bagaimana kunjungan Titus dan Timotius sangat menguatkan dirinya. Dia pun sebisa mungkin berupaya mengunjungi jemaatnya untuk menghibur dan menunjukkan kasihnya yang besar kepada mereka. Sekiranya tauratMu tidak menjadi kegemaranku maka aku telah binasa dalam sengsaraku Mazmur 11992 95% found this document useful 22 votes7K views79 pagesDescriptionbahan khotbahOriginal Title207958547 29 Bahan Khotbah Ibadah Kematian Dan PenghiburanCopyright© © All Rights ReservedAvailable FormatsDOC, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?95% found this document useful 22 votes7K views79 pages29 Bahan Khotbah Ibadah Kematian Dan PenghiburanOriginal Title207958547 29 Bahan Khotbah Ibadah Kematian Dan PenghiburanJump to Page You are on page 1of 79 You're Reading a Free Preview Pages 8 to 21 are not shown in this preview. You're Reading a Free Preview Page 28 is not shown in this preview. You're Reading a Free Preview Pages 33 to 59 are not shown in this preview. You're Reading a Free Preview Pages 64 to 65 are not shown in this preview. You're Reading a Free Preview Pages 73 to 78 are not shown in this preview. Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime.

khotbah dukacita kematian seorang ayah