FilmRohani Kristen | Klip Film MISTERI KETUHANAN SEKUEL(4)Mengapa Tuhan Dua Kali Menjadi Daging Untuk Menyelamatkan Umat Manusia? 3,059 Agustus 4, 2020 Pada Zaman Kasih Karunia, Tuhan yang berinkarnasi disalibkan, memikul dosa manusia dan menyelesaikan pekerjaan penebusan umat manusia.
Peristiwakelahiran Yesus di Betlehem hendak menunjukkan bahwa Yesus lahir untuk semua orang, Ia mau bersahabat kepada siapapun. Pesan semacam ini yang ditegaskan juga dalam tema Pesan Natal bersama KWI dan KWI: “Hiduplah sebagai sahabat bagi semua orang” (bdk. Yohanes 15:14-15). Yesus yang lahir adalah Raja Damai.
Natal(serapan dari bahasa Portugis: Natal, berarti "kelahiran") adalah hari raya umat Kristen yang diperingati setiap tahun oleh umat Kristiani pada tanggal 25 Desember untuk memperingati hari kelahiran Yesus Kristus.Natal dirayakan dalam kebaktian malam pada tanggal 24 Desember; dan kebaktian pagi tanggal 25 Desember. Beberapa gereja Ortodoks merayakan Natal pada
HistorisitasYesus, atau kesejarahan Yesus, berkenaan dengan sejauh mana keberadaan Yesus dari Nazaret, lahir ca. 7–2 SM, sebagai seorang figur historis. Terdapat "konsensus yang nyaris universal" di kalangan akademisi biblika bahwa Yesus ada secara historis, kendati mereka memiliki perbedaan pendapat mengenai keyakinan dan ajaran Yesus serta keakuratan detail
Kata'Kristologi' berasal dari bahasa Yunani, Χριστός = kristos = Kristus dan λόγος =logos = logi = kata-kata = ilmu, singkatnya; Ilmu tentang Kristus, pembicaraan tentang Kristus ini terkait dengan umat Kristen memahaminya dalam kehidupan sehari-hari; Yesus pada masa lampau hingga masa kini, selama perjalanan itulah maka terus
Semuaagama dan para pemeluknya dilindungi hidupnya," kata Mahfud saat mengunjungi Gereja Katedral Hati Kudus Yesus di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (25/12). "Itulah sebabnya, negara kita dasar pertamanya adalah berdasar Ketuhanan yang Maha Esa, bukan berdasar agama A, B ,atau C. Ketuhanan yang Maha Esa itulah yang kemudian
Yesusbukan TUHAN karena ketakutan. (43) Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya. (44) Ia sangat KETAKUTAN dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah. (Lukas 22 : 43-44)
XtnIV0. Jonathan Borba/Unsplash Perayaan Natal dikaitkan dengan kelahiran Yesus, namun pohon Natal tidak memiliki tempat dalam Kekristenan awal. Yesus Kristus diperingati oleh jutaan orang di seluruh dunia dengan perayaan Natal pada tanggal 25 Desember. Namun, sebagian besar ahli sepakat bahwa ia tidak lahir pada hari itu, atau bahkan pada tahun 1 Masehi. Para peneliti berspekulasi bahwa Gereja Katolik Roma memilih 25 Desember karena berkaitan dengan titik balik matahari musim dingin dan Saturnalia, sebuah festival yang didedikasikan untuk dewa Romawi Saturnus. Gereja juga dapat mengkooptasi festival pagan yang populer ini, serta perayaan musim dingin agama-agama pagan lainnya, dengan memilih hari ini untuk merayakan ulang tahun Yesus, menurut ilmuwan teologi Ignacio L. Götz dalam bukunya "Jesus the Jew Reality, Politics, and Myth-A Personal Encounter" Christian Faith Publishing, 2019. Namun, tidak ada yang tahu persis kapan sebenarnya Yesus lahir. Dikutip dari Live Science, beberapa ilmuwan percaya bahwa Yesus lahir antara tahun 6 Sebelum Masehi dan 4 Sebelum Masehi. Keyakinan ini sebagian didasarkan pada kisah alkitabiah tentang Raja Herodes Agung. Dalam upaya untuk membunuh Yesus, sang raja diduga memerintahkan kematian semua bayi laki-laki di bawah usia 2 tahun yang tinggal di sekitar Betlehem, sebuah peristiwa yang dikenal sebagai Pembantaian Orang-orang Tak Bersalah. Ini terjadi tidak lama sebelum kematian Herodes sendiri, penanggalan yang masih diperdebatkan. Namun, sebagian besar ilmuwan, termasuk Peter Richardson dan Amy Marie Fisher dalam buku mereka "Herod King of the Jews and Friend of the Romans Second edition" Routledge, 2018, mengikuti penanggalan yang digunakan oleh sejarawan Romawi, yang percaya bahwa Herodes meninggal pada tahun 4 Sebelum Masehi. Tetapi para sejarawan tidak setuju tentang tahun kematian Herodes yang sebenarnya. Selain, itu banyak juga yang berpendapat bahwa pembunuhan bayi massal itu tidak lebih dari sebuah legenda. Baca Juga Mengulik Tradisi Memasang Pohon Natal, Siapa yang Memulainya? Baca Juga Demi Propaganda, Nazi Bikin Alkitab Anti-Semit dan Yesus Ras Arya Baca Juga Mengulik Tradisi Memasang Pohon Natal, Siapa yang Memulainya? Baca Juga Piet Hitam Si Pembantu Sinterklas, Rasisme dalam Budaya Natal Belanda PROMOTED CONTENT Video Pilihan
Ilustrasi Natal fotoUnsplashDalam waktu dekat, umat Kristen dan Katolik di seluruh dunia akan merayakan Hari Natal. Momen ini merupakan bentuk peringatan untuk menyambut kelahiran Tuhan Yesus Kristus, Sang Juru Selamat. Biasanya, Natal dirayakan dengan kebaktian di gereja pada 24 Desember malam. Kemudian, perayaan ini dilanjutkan dengan ibadah pada 25 Desember pagi. Selain beribadah, umat Nasrani juga kerap melakukan berbagai tradisi seperti memasang pohon Natal, tukar kado, dan diketahui, Natal merupakan momen sakral bagi umat Kristen dan Katolik, di mana Sang Juru Selamat telah lahir ke dunia. Momen istimewa ini dimuat dalam Alkitab, tepatnya Injil Perjanjian kitab Matius, disebutkan bahwa Maria telah mengandung dari Roh Kudus tanpa persetubuhan. Hal ini diketahui Maria dari seorang malaikat. Usai mendengar kabar tersebut, Maria dan suaminya, Yusuf pergi ke kota Betlehem untuk mendaftar sensus yang diperintahkan Kaisar Romawi sampai di Betlehem, Yusuf dan Maria tidak mendapatkan tempat untuk menginap. Akhirnya, bayi Yesus pun dibaringkan di sebuah palungan, sebuah wadah makanan untuk sisi lain, Alkitab juga mencatat bahwa beberapa orang-orang Majus dari Timur datang ke tempat kelahiran Yesus. Mereka datang setelah mendengar kabar kelahiran tersebut dari para orang itu melihat bintang besar di atas wilayah Yerusalem. Mereka pun mengikuti bintang tersebut hingga akhirnya sampai di tempat kelahiran Yesus. Setibanya di sana, ketiga orang Majus itu menyembah Yesus dan mempersembahkan emas, kemenyan, dan Natal fotoUnsplashSejatinya, Alkitab tidak menyebutkan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus Kristus. Injil Perjanjian Baru hanya menjelaskan peristiwa kelahiran Yesus di Betlehem dan kedatangan tiga orang Majus. Meski sempat menjadi perdebatan, umat Kristen akhirnya sepakat untuk menetapkan tanggal 25 Desember dalam Kalender Gregorian sebagai Hari Natal. Penetapan ini berkaca pada hari raya liturgi lain seperti Paskah dan Jumat Agung yang tidak mendapat pendekatan tanggal secara pasti, namun hanya berupa penyelenggaraan kembali acara tersebut dalam setahun liturgi. Dengan kata lain, ketepatan tanggal bukan hal yang utama. Hal yang terpenting terletak pada esensi dan inti perayaan Natal yang dapat diwujudkan dari hari ke hari.
Peristiwa Natal tak lepas dari peranan keluarga Maria dan Yusuf yang sejak kelahiran Yesus di tengah-tengah mereka, keluarga mereka disebut Keluarga Kudus. Kisah Keluarga Kudus tidak dibangun atas dasar hubungan suami-istri secara jasmaniah-badaniah antara Maria dan Yusuf sehingga lahirlah Yesus. Hubungan Maria dan Yusuf sebagai suamiistri begitu unik, sebab Maria mengandung justru ketika sedang bertunangan dengan Yusuf. Kisah mengenai Keluarga Kudus dimulai saat Maria menerima kabar dari Malaikat Gabriel, yang menyatakan bahwa Maria akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki yang harus diberi nama Yesus bdk. Lukas 131. Ketika Maria menerima kabar tersebut, dia sedang bertunangan dengan seorang laki-laki bernama Yusuf dari keluarga Daud Lukas 127. Demikianlah, Maria mengandung dan melahirkan anak, seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan kain lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena mereka tidak mendapat tempat di rumah penginapan bdk. Lukas 27. Begitulah, Keluarga Kudus beranggotakan tiga pribadi utama, yakni Yesus sebagai anak, Maria sebagai ibu dan istri, serta Yusuf sebagai bapak dan suami. Maria, perawan dari sebuah kota di Galilea yang bernama Nazaret, dipilih menjadi “ibu” Keluarga Kudus karena dialah “yang dikaruniai, Allah besertanya” bdk. Lukas 128. Tak pernah terjadi sebelumnya pada siapa pun, bahwa Allah mengutus Malaikat Gabriel untuk menyampaikan rahmat dan perutusan khusus kepada seorang gadis perawan dengan tugas, “Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus!” Lukas 131. Maria dipanggil dan diutus untuk menjadi ibu Keluarga Kudus. Yesus lahir sebagai anak dengan identifikasi khusus. “Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya tahta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan” Lukas 132-33. Maka, kelahiran Yesus tidak terjadi atas hasrat dan keinginan seorang lelaki. Maria mengandung bukan atas kehendak manusia lelaki. Maria mengandung, dan dengan itu mulailah tumbuh rahmat keibuannya karena “Roh Kudus turun atasnya dan kuasa Allah Yang Mahatinggi menaungi dia; itulah sebabnya anak yang dilahirkannya disebut kudus, Anak Allah” bdk. Lukas 135. Yesus lahir, hidup, tumbuh berkembang dalam bimbingan Maria dan Yusuf. Maria dan Yusuf disahkan dan diakui sebagai orang tua Yesus lih. Lukas 241-51. Sebagai anak laki-laki sulung, oleh kedua orang tuanya, Maria dan Yusuf, Yesus disunat seturut hokum Taurat dan dipersembahkan kepada Allah di kenisah lih. Lukas 221-38. Dalam naungan Keluarga Kudus, Yesus “bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya” Lukas 240. Makin hari, “Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia” Lukas 252. Yusuf adalah kepala Keluarga Kudus, meski kelahiran Yesus dari Maria bukan karena buah darah dan dagingnya. Yesus lahir dari rahim perawan Maria bukan karena tindakan Yusuf, melainkan karena daya kuasa Roh Kudus! Namun, Yusuf tetap diterima dan diakui sebagai “ayah” Yesus di dunia, karena Yusuf adalah suami Maria. Maria sendiri menegaskan hal itu kepada Yesus ketika mereka menemukan Yesus di kenisah. Maria berkata, “Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu yakni Yusuf – pen. dan aku dengan cemas mencari Engkau!” Lukas 248. Bagaimana dan sejauh mana peranan Yusuf sebagai kepala Keluarga Kudus memang tidak banyak dikisahkan dalam Injil. Namun peranan Yusuf sebagai bapak keluarga cukup besar, juga sejak Yesus dalam kandungan Maria. Keputusan Yusuf untuk menerima Maria secara tulus walau Maria mengandung bukan karena hubungan suami-istri dengannya adalah keputusan yang luar biasa. Keputusan itu diambil dalam pertimbangan yang matang, hening dan atas tuntunan malaikat Tuhan sendiri. Itulah yang digambarkan St. Matius dalam Injilnya. Ketika Maria, bertunangan dengan Yusuf, dan ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami-istri; Yusuf memang sempat mengalami keguncangan! Sebagai orang yang tulus hati, dia tidak mau mencemarkan nama istrinya di muka umum. Maka ia bermaksud menceraikan Maria secara diam-diam. Namun, ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan tampak kepadanya dan berkata, “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak lakilaki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” Dan Yusuf pun berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai istrinya, kendati tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus lih. Matius 118-25. Begitulah Yusuf menerima Maria sebagai istrinya dan Yesus yang dalam kandungan Maria sebagai anaknya. Yesus pun diterima sebagai anak Yusuf?” lih. Luk 422. Yesus tumbuh, berkembang dan hidup dalam Keluarga Kudus dalam segala kesederhanaannya. Setiap hari, Yesus, Maria, dan Yusuf hidup dan berinteraksi secara normal dengan keluarga-keluarga lain di Nazaret. Sebagai anak, Yesus bermain dan berlari di halaman rumah bersama dengan anak-anak lain yang sebaya. Yesus juga belajar dari keterampilan ayahnya sebagai tukang kayu. Demikian juga dengan Maria dan Yusuf. Sama seperti layaknya para wanita lain di Nazaret, Maria cenderung mengerjakan pekerjaan rumah, membersihkan, memasak, mencuci, membuat pakaian. Yusuf pun bekerja sesuai dengan ketrampilannya, mungkin juga sesekali pergi ke ladang untuk memanen anggur dan buah zaitun. Yang jelas, menurut catatan St. Lukas, dalam asuhan Maria dan Yusuf, “Yesus makin bertambah hikmat- Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia” Lukas 252. Keluarga Kudus Nazaret, Yesus, Maria dan Yusuf hidup dalam kesederhanaan. Itulah yang hendak ditegaskan oleh St. Lukas. Catatan itu ditujukan sebagai kabar baik bagi setiap orang yang hendak meneladani Keluarga Kudus. Sesungguhnya, hidup kita juga mengalir dalam kesederhanaan, dalam peristiwa-peristiwa yang biasa, rutin dan kadang tampak membosankan. Tetapi dalam situasi dan keadaan itulah kita diajak untuk menemukan dan menangkap misteri penjelmaan yang terjadi dalam peristiwa hidup yang sederhana dan biasa. Lihatlah, dalam Keluarga Kudus yang sederhana dan biasa itu, cukup tiga pribadi sederhana yang saling mengasihi satu sama lain. Dan dari dalam Keluarga Kudus itulah wajah dunia akan diubah menjadi berkah, sebab dari Keluarga Kudus itulah tampil Sang Juruselamat bagi seluruh umat manusia! Selamat Natal bagi yang merayakannya. Aloys Budi Purnomo Pr, Rohaniwan, Budayawan Interreligius, Ketua Komisi HAKKeuskupan Agung Semarang, Kepala Campus Ministry Unika Seogijapranata Sumber Investor Daily Saksikan live streaming program-program BTV di sini
Foto Imago/blickwinkel/McPhoto/A. SchauhuberSelain tidak ada satupun ayat yang spesifik, Natal dianggap sebagai tradisi pagan yang diadopsi menjadi peringatan agama Kristen. Hal ini menimbulkan polemik sehingga sejumlah kalangan tidak lagi merayakan Natal meski beragama Kristen. Seorang warga Alor di Nusa Tenggara Timur pada November 2019 silam menerima putusan kasasi hukuman penjara selama enam bulan karena dianggap bersalah telah menista Yesus. Sebelumnya Pengadilan Tinggi Kupang menjatuhkan vonis 18 bulan penjara, namun Mahkamah Agung mengembalikan masa hukuman selama enam bulan seperti vonis Pengadilan Negeri Kalabahi. Kasus ini boleh jadi baru pertama kali terjadi di Indonesia, dipenjara karena mempertanyakan kebenaran agamanya sendiri. Lamboan Djahamao mempertanyakan kelahiran Yesus yang diperingati setiap tanggal 25 Desember di akun Facebooknya dengan menulis "Ajaran Gereja bisa salah dan menyesatkan karena tidak ada satu pun ayat yang mencatat kalau Yesus lahir pada 25 Desember.” Meski ia mengaku Kristen, dalam pledoinya Lamboan Djahamao berterima kasih pada Majelis Ulama Indonesia yang mefatwakan tanggal 25 Desember sebagai budaya kafir. Seiring dengan perkembangan teknologi internet, banjir arus informasi melanda umat beragama. Beberapa tahun belakangan ini, polemik soal Natal sebagai hari kelahiran Yesus mencuat di kalangan umat Kristen yang sebetulnya berawal dari situs-situs non-Kristen. Tanggal 25 Desember disebutkan dirayakan oleh orang-orang Romawi dalam bentuk Festival Saturnalis guna memperingati Kelahiran Dewa Matahari Natalis Solis Invicti. Meski Romawi kemudian menjadi kerajaan Kristen sejak tahun 313 Masehi, Festival Saturnalia dituding terus diperingati dalam bentuk perayaan Natal. Tradisi pagan? Tuduhan Natal adalah perayaan pagan yang dicomot dari tradisi pra-Kristen menurut Yogie Prihantoro, lulusan The Center for Middle Eastern Christianity-ETSC dan Dominican Institute for Oriantal Studies, Kairo ini sebagai ‚kengawuran dan tidak ilmiah. Dalam sebuah percakapan, Kepala Pusat Penelitian dan Pengkajian Semitik Moriah di Tangerang, Jawa Barat ini menyebut ada tiga fakta tentang Natal yang berkaitan erat dengan peringatan kelahiran Yesus yang sangat penting bagi umat Kristen. Fakta pertama, Yogie Prihantoro merujuk dari tulisan Bapa Gereja Santo Hyppolitus yang hidup pada tahun 170-235 Masehi yang dicatat dalam buku berjudul, "Commentary on Prophet Daniel 43” Komentar Atas Nabi Daniel 43 yang tertulis, "Untuk kedatangan TUHAN kita yang pertama sebagai manusia yang telah lahir di Betlehem delapan hari sebelum Januari, hari keempat dalam minggu itu, pada tahun ke-42 pemerintahan Kaisar Agustus.” Fakta kedua bersumber dari buku berjudul "The Coptic Didascalia” yang ditulis pada tahun 189 Masehi yang menulis, "Saudara-saudaraku, tetapkanlah hari-hari perayaan junjungan agung kita Yesus Kristus tepatnya di setiap tanggal 25 bulan kesembilan kalender Ibrani Kislev atau setiap tanggal 29 bulan keempat kalender Mesir Kyakh." Bulan Kislev mengacu pada kalender Gregorian atau Masehi jatuh pada bulan November atau Desember. Di masa itu Natal sudah dirayakan oleh jemaat gereja generasi awal. Lebih lanjut, kolektor naskah-naskah Alkitab kuno ini menambahkan fakta ketiga yang menegaskan perayaan Natal sudah lebih dulu diperingati oleh umat Kristen baru kemudian ditetapkan sebagai pemujaan terhadap Dewa Matahari Sol Invictus pada tahun 274 Masehi oleh Kaisar Markus Aurelius Rijkers adalah wartawan independen, IVLP Alumni, pendiri Hadassah of Indonesia, inisiator Tolerance Film Festival dan inisiator Monique Rijkers Penentuan tanggal kelahiran Meski Natal bukan tradisi pagan yang berkaitan dengan dewa-dewa, umat Kristen masih mempersoalkan tanggal dan bulan kelahiran Yesus Kristus. Polemik umumnya berawal pada kisah kelahiran Yesus yang terdapat di Alkitab yang menyebutkan malaikat mendatangi para gembala di padang guna memberitahukan kelahiran seorang juruselamat. Jika Yesus Kristus lahir pada bulan Desember maka di Betlehem sedang berada dalam musim dingin, sehingga tidak mungkin ada gembala menjaga domba di padang rumput. Untuk menjawab soal ini, kita patut mengetahui di masa itu domba-domba dipelihara di dalam gua-gua, sehingga meski cuaca dingin gembala-gembala tetap akan menjaga domba di dalam gua yang terletak di padang. Gereja Kelahiran Yesus Nativity Church di Betlehem dibangun oleh Ratu Helena dari Byzantium di atas bekas gua yang dianggap sebagai lokasi Maria melahirkan Yesus. Karena itulah umat Katolik umumnya mengenal "Gua Maria” karena gua menjadi lokasi peristiwa luar biasa, yakni seorang perawan Yahudi melahirkan bayi yang kelak memiliki pengikut terbesar di seluruh dunia yakni sekitar 2,4 milyar orang. Meski argumentasi bulan Desember sebagai musim dingin bisa diterima sebagai bulan kelahiran Yesus. Namun sesungguhnya banyak umat Kristen yang melupakan fakta bahwa Yesus Kristus lahir dari keluarga Yahudi yang memiliki perhitungan bulan berbeda dengan kalender Masehi. Alkitab menyediakan informasi detail namun tersembunyi mengenai waktu kelahiran Yesus Kristus. Pertama bisa dilihat dari kisah kelahiran Yohanes Pembaptis yang mendahului kisah kelahiran Yesus Kristus. Dalam Lukas 15-25 dijabarkan tentang imam di Bait Suci bernama Zakharia yang mendapat kabar dari malaikat tentang kelahiran anak yang ia nanti-nantikan Yohanes Pembaptis. Dalam tradisi Yahudi yang tertulis dalam Alkitab, seorang imam mempunyai jadwal yang teratur untuk melayani di dalam Bait Suci. Imam Zakharia termasuk dalam rombongan Abia. Rombongan Abia adalah rombongan ke delapan dari 24 rombongan imam yang ada lihat di 1 Tawarikh 241-19. Jika dihitung maka saat Imam Zakharia menjalani tugasnya terjadi pada bulan ke empat Tammuz, dengan demikian diperkirakan persetubuhan akan terjadi setelah masa tugas yakni pada bulan ke lima kalender Yahudi. Sembilan bulan kemudian Yohanes Pembaptis lahir pada bulan Iyar bulan kedua kalender Ibrani yang jatuh pada bulan April atau Mei. Dari Alkitab pula diketahui Maria, ibu Yesus Kristus yang sedang mengandung di bulan pertama berkunjung ke rumah Elizabet, ibu Yohanes Pembaptis yang sedang mengandung di bulan keenam Lukas 136. Berpatokan pada informasi inilah maka bisa dihitung bulan kelahiran Maria setelah mengandung selama sembilan bulan yakni melahirkan pada bulan Tishri yang jatuh pada bulan September atau Oktober menurut kalender Masehi. Berdasarkan perhitungan kalender Yahudi ini maka Yesus diperkirakan lahir pada bulan September atau Oktober berdekatan dengan Hari Raya Yahudi Sukkot Feast of Tabernacle yang dianggap memenuhi nubuatan tentang nama Yesus sebagai Imanuel yang berarti TUHAN ada bersama-sama dengan manusia. Jika Yesus lahir pada bulan September atau Oktober sesuai kalender Yahudi, dengan demikian Lamboan Djahamao sepatutnya tidak perlu dipenjarakan karena status Facebooknya bukan penistaan agama tetapi pertanyaan agama yang bisa dijawab secara ilmiah, tanpa perlu ada gugat-menggugat. Makna Natal menepis polemik Sebagai ranah privat, berkeyakinan dan beragama memang urusan pribadi. Namun keinginantahuan umat Kristen yang disampaikan lewat media sosial secara publik idealnya tidak perlu berakhir di depan hakim. Keinginantahuan pada religiusitas sesungguhnya sangat bagus dimiliki setiap individu ketimbang beragama tanpa pengertian, beribadah tanpa pengetahuan dan beriman tanpa nalar. Pertanyaan tentang iman sejatinya harus dilihat sebagai bentuk pembelajaran dan proses memperdalam pengenalan akan Tuhan tanpa kehilangan daya kritis. Kasus Lamboan Djahamao di Nusa Tenggara Timur tak perlu terjadi dan jangan sampai terulang kembali sebab yang terpenting dari kelahiran Yesus Kristus adalah mempercayai bahwa Natal adalah peristiwa yang benar terjadi dua ribu tahun lampau ketika Tuhan menjadi manusia dan berada di antara manusia Imanuel. Perbedaan tanggal dan bulan hanya soal kronologi, bukan teologi. Kapan merayakan Natal bukan persoalan utama dan bisa dikompromikan, buktinya dua aliran Kristen yakni Gereja Kristen Timur dan Gereja Kristen Barat merayakan Natal pada tanggal yang berbeda-beda. Gereja Orthodox Kristen Timur menggunakan kalender versi Julian yang berlaku sejak masa Kaisar Romawi Julius Julius Caesar yang menetapkan Natal pada tanggal 7 Januari, sedangkan Gereja Roma Katolik dan Gereja Protestan Kristen Barat menggunakan rujukan kalender Gregorian versi Paus Gregory XIII yang merayakan Natal pada tanggal 25 Desember. Tampaknya perbedaan tanggal kelahiran Yesus Kristus yang sudah berlangsung ribuan tahun tidak menjadi masalah krusial. Menurut Yogi Prihantoro yang pernah kuliah di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir umat Kristen di Mesir merayakan Natal dua kali karena Kristen Koptik yang lebih banyak jumlah pengikutnya merayakan Natal pada 7 Januari sementara umat Kristen Katolik Roma dan Protestan yang lebih sedikit jumlah pengikutnya merayakan Natal pada 25 Desember. Meski dalam perbedaan waktu perayaan, tujuan merayakan Natal adalah ucapan syukur atas nuzulnya Sang Kalimatullah Firman Allah yang telah menjadi manusia Yesus Kristus. Memahami makna Natal jauh lebih penting daripada sekadar seremoni tanpa esensi. Selamat merayakan Natal 25 Desember dan 7 Januari. hp monique_rijkers adalah wartawan independen, IVLP Alumni, pendiri Hadassah of Indonesia, inisiator Tolerance Film Festival dan inisiator IAMBRAVEINDONESIA. *Setiap tulisan yang dimuat dalam DWNesia menjadi tanggung jawab penulis *Bagi komentar Anda dalam kolom di bawah ini.
Jonathan Borba/Unsplash Perayaan Natal dikaitkan dengan kelahiran Yesus, namun pohon Natal tidak memiliki tempat dalam Kekristenan awal. Yesus Kristus diperingati oleh jutaan orang di seluruh dunia dengan perayaan Natal pada tanggal 25 Desember. Namun, sebagian besar ahli sepakat bahwa ia tidak lahir pada hari itu, atau bahkan pada tahun 1 Masehi. Para peneliti berspekulasi bahwa Gereja Katolik Roma memilih 25 Desember karena berkaitan dengan titik balik matahari musim dingin dan Saturnalia, sebuah festival yang didedikasikan untuk dewa Romawi Saturnus. Gereja juga dapat mengkooptasi festival pagan yang populer ini, serta perayaan musim dingin agama-agama pagan lainnya, dengan memilih hari ini untuk merayakan ulang tahun Yesus, menurut ilmuwan teologi Ignacio L. Götz dalam bukunya "Jesus the Jew Reality, Politics, and Myth-A Personal Encounter" Christian Faith Publishing, 2019. Namun, tidak ada yang tahu persis kapan sebenarnya Yesus lahir. Dikutip dari Live Science, beberapa ilmuwan percaya bahwa Yesus lahir antara tahun 6 Sebelum Masehi dan 4 Sebelum Masehi. Keyakinan ini sebagian didasarkan pada kisah alkitabiah tentang Raja Herodes Agung. Dalam upaya untuk membunuh Yesus, sang raja diduga memerintahkan kematian semua bayi laki-laki di bawah usia 2 tahun yang tinggal di sekitar Betlehem, sebuah peristiwa yang dikenal sebagai Pembantaian Orang-orang Tak Bersalah. Ini terjadi tidak lama sebelum kematian Herodes sendiri, penanggalan yang masih diperdebatkan. Namun, sebagian besar ilmuwan, termasuk Peter Richardson dan Amy Marie Fisher dalam buku mereka "Herod King of the Jews and Friend of the Romans Second edition" Routledge, 2018, mengikuti penanggalan yang digunakan oleh sejarawan Romawi, yang percaya bahwa Herodes meninggal pada tahun 4 Sebelum Masehi. Tetapi para sejarawan tidak setuju tentang tahun kematian Herodes yang sebenarnya. Selain, itu banyak juga yang berpendapat bahwa pembunuhan bayi massal itu tidak lebih dari sebuah legenda. Baca Juga Mengulik Tradisi Memasang Pohon Natal, Siapa yang Memulainya? Baca Juga Demi Propaganda, Nazi Bikin Alkitab Anti-Semit dan Yesus Ras Arya Baca Juga Mengulik Tradisi Memasang Pohon Natal, Siapa yang Memulainya? Baca Juga Piet Hitam Si Pembantu Sinterklas, Rasisme dalam Budaya Natal Belanda Dalam bukunya yang berjudu; "Zealot The Life and Times of Jesus of Nazareth" Random House, 2013, sarjana keagamaan dan penulis Reza Aslan menulis bahwa pembantaian Herodes adalah "sebuah peristiwa yang tidak ada sedikitpun bukti yang menguatkan dalam kronik atau sejarah dari masa apakah Yahudi, Kristen, atau Romawi." Para sarjana lain telah berusaha untuk menghubungkan "Bintang Betlehem," yang konon menandai kelahiran Yesus, dengan peristiwa astronomi yang sebenarnya untuk menentukan tahun kelahirannya. Misalnya, dalam artikel tahun 1991 di Quarterly Journal of Royal Astronomical Society, astronom Colin Humphreys mengusulkan bahwa bintang dongeng itu sebenarnya adalah komet yang bergerak lambat. Humpreys mengatakan keberadaan komet tersebut pernah dicatat oleh para pengamat Tiongkok pada tahun 5 Sebelum Masehi. Namun, teori Humphreys sejak itu telah dibantah. Bulan kelahiran Yesus juga menjadi titik perdebatan, dengan satu teori menyatakan bahwa Bintang Betlehem mungkin adalah Venus dan Yupiter yang datang bersama-sama untuk membentuk cahaya terang di langit, peristiwa langka yang terjadi pada bulan Juni tahun 2 Sebelum Masehi. Kemungkinan lain adalah konjungsi serupa antara Saturnus dan Jupiter, yang terjadi pada Oktober tahun 7 Sebelum Masehi. Tapi yang jelas, dari semua teori ilmiah yang ada, tidak ada yang menyebut bulan Desember. PROMOTED CONTENT Video Pilihan
misteri natal dan ketuhanan yesus